KISAH-KISAH BAKUPEDULI

 

15 Agustus 2009 pada 10:33 (Catatan Somerpes)

 

kris bheda baku peduiGerimis jatuh perlahan. Malam sebentar lagi bangun. Di ujung perempatan Condong Catur Yogyakarta, dua gadis berkulit sawo matang, menengok ke kiri dan kanan sesekali melempar pandang ke seberang jalan. Namun arus kendaraan sepertinya tidak memberi mereka jalan. Keduanya was-was, jantung mereka berdebar. Plastik hitam di tangan kanan yang berisi pisang dan umbi goreng diremas kuat-kuat, sementara tangan yang kiri menggandeng sahabatnya erat-erat. Di seberang jalan, di depan rumah beranyam bambu delapan kawan menunggu dengan cemas. Dada mereka pun berdebar. Menunggu dua sahabat yang belum menyeberang.

Sepuluh menit berselang, tepat pukul setengah tujuh dua gadis yang ditunggu muncul di hadapan mereka. “Aduh… tobat begini lagi” kata yang satu dari dua. Kawan-kawan mereka menyambut legah sambil melangkahkan kaki meninggalkan jalan yang masih saja ramai. “Kami mencoba untuk terus beradaptasi dengan situasi yang baru ini” kata Hermelinda salah satu dari sepuluh kawan, ketika sudah berukumpul di bawah rumah beratap genteng. ”Namanya juga kita masih baru, jadi biasa kalau masih takut, canggung dan minder” tambah Andreas Nahak, salah seorang teman yang lain.

Baru sebulan, sepuluh kawan itu di Yogyakarta. Di bawah rumah beratap genteng tanpa plafon mereka menetap. Dalam lima kamar berukuran tiga kali empat meter, di atas tempat tidur kayu tanpa kelambu mereka tidur. ”Tidak apa-apa, begini saja kami sudah bersyukur” kata Nahak lebih lanjut. ”Yang sekarang kami pikirkan adalah belajar yang giat, karena kami dipercayakan untuk membangun Laktutus” Timpal Lukas, seorang kawan yang lain, yang juga menjadi ketua asrama rumah beranyam bambu itu.

Malam sudah bangun. Gerimis masih saja jatuh. Di bawah terang lampu neon kesepuluh kawan itu bertukar tutur sambil menghabiskan pisang dan umbi goreng. Mengelilingi kotak papan satu kali satu meter, mereka bentangkan aneka cerita dan kisah yang terbentang antara Laktutus dan Yogyakarta.  Sesekali tampak sendu, ketika harus melontar kata tentang kampung halaman, tentang ke sekolah tanpa kasut dan berjalan kaki, tentang orang tua yang meladang, tentang adik yang masih kecil dan jalan yang belum beraspal. Namun, sesekali pula mereka cerah benderang, ketika membayangi masa depan, tentang makanan jawa yang katanya enak, tentang buku-buku yang akan mereka baca, tentang sepeda yang akan mereka kayuh, tentang bangku kuliah yang akan mereka tempuh dan sebuah masa depan Laktutus yang berubah.

Menutup cerita sebelum beranjak pergi kamar masing-masing. Nahak, yang mengambil program studi matematika mengisahkan lagi tentang alasan mengapa mengikuti program beasiswa Baku Peduli. Katanya “Salah satu kendala yang memilukan daerah kami adalah kurangnya tenaga pengajar dari daerah kami sendiri yang bisa mengisi kekosongan di sekolah-sekolah dari SD sampai SLTP yang tersebar di daerah kami sehingga menyebabkan seorang tanaga pengajar harus merangkap 2 sampai 3 mata pelajaran walaupun bukan keahliannya.”

Pemuda sawo matang berusia 21 tahun itu melanjutkan ”Namun bukan berarti tidak ada pengajar dari luar daerah. Tenaga tersebut sudah disiapkan namun karena daerah kami yang tertinggal dari segi pembangunan dan teknologi membuat mereka tidak betah dan tidak jarang mereka dipindahtugaskan dari daerah kami. Disinilah kami dituntut untuk mengisi kekosongan yang ada walaupun dengan segala keterbatasan. Karena kami yakin pendidikan merupakan faktor penting untuk perubahan dan perbaikan sumber daya manusia”

”selamat malam” serempak mereka mungcap salam. Dari pojok sebelah kiri, persis di pintu samping tanpa gembok, aku bersama lima sahabat yang lain Pater Saverinus Adir, OFM, Cyprianus Jehan Paju Dale, Tamara Soukotta, Riza Lopes dan Tommy Saleh memperhatikan mereka satu persatu masuk ke kamar masing-masing dengan wajah cerah. Di atas spon sepuluh senti mereka rebahkan diri, merajut mimpi-mimpi tentang Laktutus yang selalu memanggil dari balik dada mereka, baik di waktu siang yang berisik maupun malam yang sunyi.

Dari balik dada yang paling dalam aku, dan mungkin juga sahabat-sahabatku akan berharap ”Mereka terus bermimpi, dan itu tak pernah pupus karena Laktutus menanti, bukan demi mereka sendiri tetapi demi masa depan negeri ini”. Malam bangkit sudah beranjak tinggi. Arlojiku menunjuk pukul setengah sepuluh malam. Gerimis tipis masih jatuh. Sebelum kami pergi dari tepi jalan yang masih saja bising, dari balik celah-celah dinding beranyam bambu terpendar-pendar cahaya lampu pijar. Aku tersenyum sendiri sambil memijakkan duduk di kursi taksi menuju penginapan. Pun pula untuk bermimpi.

 

Sepuluh Bidak di Condong Catur

 
Pengantar: Para Sahabat Bakupeduli yth, berikut ini Catatan Kris Bheda Somerpes, salah seorang promotor Gerakan Bakupeduli, tentang angkatan pertama peserta program ini dan cita-cita besar yang sedang kita perjuangkan bersama. Sebuah tulisan yang menyentuh. Selamat menikmati.

Awal Juli 2009. Hari itu, saat sesudah makan siang. Beberapa piring plastik belum dicuci. Lemari kayu dua rak tampak kosong tak terisi. Sepiring lauk ikan teri habis, yang tertinggal hanya sebiji kacang garing berguling ke sisi lemari, mungkin yang itu luput dari terjangan sendok besi. Di atas lemari, berjajar handphone yang sebentar-sebentar bergetar menari, rupa-rupanya ada pesan masuk yang bermirip isi atau telephone dari kampung yang menanyakan apa kabar hari ini.
 
Masih dalam rumah berdinding anyaman bambu, di atas tempat tidur kayu enam gadis duduk berapat-rapat. Tiga pemuda duduk di kursi membentuk setengah melingkar, menyisahkan satu kursi kosong, untuk teman mereka yang belum pulang. Katanya ke kebun mencari makanan kelinci. Belum beberapa saat menunggu, pintu tripleks tiga mili meter berderak menyusul ucapan selamat siang dari seorang lelaki berusia tigah puluhan. Senyumnya mengembang disambut sembilan yang lain.
 
“Ini dia ketua asrama datang” kata seorang gadis yang duduk paling pojok, disambut tawa kecil kawan-kawannya. Wajah mereka berseri-seri. Tak ada kerutan dahi, yang tampak hanya senyum yang selalu diberi dan diberi. Walaupun sedikit malu-malu yang menyembul di balik lugu, mereka tetap tampak cerah ceria. Acara siang hari itu pun mulai. Mereka mengadakan pertemuan kecil namun membahas dua agenda penting; tentang ‘peraturan rumah tangga’ dan ‘mimpi’.
Tentang peraturan rumah tangga mereka menepi di satu titik ‘belajar adalah nomor satu, segala yang lain adalah nomor dua”. Namun ketika memasuki dunia ‘mimpi’ sepuluh kawan itu menjadi pribadi yang mandiri. Masing-masing memiliki mimpinya sendiri-sendiri. Namun satu yang pasti, komunitas asal mereka Nanaet Debusi (kawasan pegunungan Laktutus, berbatasan dengan Timor Leste), Belu, NTT menanti mereka kembali setelah empat tahun nanti, menjadi guru yang mau mengabdi untuk perubahan negeri tercinta ini mulai dari kampung mereka sendiri.
Sebab kata mereka suatu ketika “Di lihat dari latar belakang desa kami sangat banyak kekurangan dan kelemahan dalam hal pendidikan” kata Prisilia Moru yang mengambil program studi ekonomi. “Salah satu hal yang memilukan di desa kami adalah kurangnya tenaga-tenaga pengajar dari daerah kami sendiri yang yang akhirnya merangkap mengajar pada hal bukan berlatarbelakang keahliannya” kata Andreas Nahak, yang mengambil program studi Matematika. Peserta yang lain yang mengambil program studi Agama Glisea Moru mengatakan “Di tempat kami, sangat sulit menemukan orang yang berpendidikan”. Lantaran itu “kami sangat berterima kasih kepada para pendukung yang telah mendukung beasiswa baku peduli dan pihak universitas Sanata Darma yang telah bersedia menerima kami” Kata Lukas M. Peserta yang mengambil program Fisika itu menutup cerita.

Di ujung perempatan Condong Catur Jogjakarta, dari balik rumah berdinding anyaman bambu dengan lima kamar tidur empat kali tiga meter persegi, sepuluh bidak itu melangkah meniti masa depan. Mereka adalah bidak-bidak pembaharu, bidak-bidak perubahan, bidak masa depan bukit Laktutus. Di tangan dan pundak mereka arah perubahan terbuktikan. Bukan tidak mungkin masa depan Laktutus akan berubah secara pasti, walau pun empat tahun adalah waktu yang singkat sekali untuk mengukir prestasi apalagi memberi perubahan seperti yang dimimpi.

Namun, Universitas Sanata Darma, tempat mereka menempuh pendidikan selama empat tahun itu sedang dan akan memberikan mereka kemudahan untuk membuktikan mimpi-mimpi dan janji-janji. Dan waktu luang yang tidak terbuang akan dimanfaatkan secara kreatif untuk mengasah minat mengukir bakat. “Saya mau belajar juga bagaimana menjadi petani” kata Adrianus Halek yang megambil program studi Bahasa Indonesia, sementara yang lain “Saya mau belajar juga tentang bagaimana memadukan keindahan Laktutus dengan produk budaya daerah kami, sehinggadaerah kami bisa dijadikan sebagai objek wisata” Kata Agustina Asa yang mengambil program studi Bahasa Inggris.

Sekarang yang tertinggal di dalam dada yang paling sepi adalah meletup-letup panggilan kecil tapi penuh arti ’Kepada semua yang peduli, jangan lupakan kami, Sedikit dari kebaikanmu sangat berarti bagi kami, mari baku peduli’.

lihat juga http://krisbheda.wordpress.com/

 

 

 

 

 

Dari Laktutus (Atambua) menuju Yogyakarta: Perjalanan Merevisi Masa Depan

Saat saya mulai menulis CATATAN ini (22 Juni 2009, malam), rombongan sepuluh orang penerima beasiswa bakupeduli—didampingi oleh Pater Save Adir, salah satu inisiator bakupeduli—sedang melintas di Solo, dalam perjalanan darat dengan bus dari Surabaya menuju Yogyakarta. Mereka terbang dari Kupang siang tadi setelah kemarin menempuh perjalanan panjang: dari Kampung Halaman di Pegunungan Laktutus naik truk menuju Halilulik (kantor SUNSPIRIT), dari Halilulik menuju Kupang dengan travel dan menginap semalam di Kota Karang, Kupang.

Perjalanan dari Laktutus menuju Yogyakarta ini bukanlah perjalanan biasa. Ini lebih dari perjalanan meninggalkan tanah Timor merantau di tanah Jawa. Inilah perjalanan mengejar impian, perjalanan meraih cita-cita, perjalanan membuat perubahan.

Perkenankan saya menyebut perjalanan ini sebagai PERJALANAN MEREVISI MASA DEPAN.

Mengapa? Pegunungan Laktutus adalah daerah yang istimewa, namun kurang beruntung. Potensi alam dan manusia tentu ada, walaupun banyak orang bilang terbatas. Sejumlah tokoh masyarakat mengeluh bahwa mereka termasuk salah satu daerah yang kurang beruntung di negeri ini. Akses jalan raya buruk, tidak ada listrik, tidak ada pelayanan air bersih, signal hp tunggu dibawah angin. Pendidikan daerah ini tidak berkembang. Tidak banyak guru yang mau tinggal dan mengajar di tempat ini. Petugas kesehatan, pejabat pemerintah, penyuluh pertanian, hampir sama “langka” nya dengan signal hp. Masa depan Laktutus sepertinya sudah ditulis: sekeras apa pun kamu berusaha, kamu akan tetap tertinggal.

Sebagaimana dapat Saudara-saudari baca dalam kolom TESTIMONI pada blog http://bakupeduli.wordpress.com, sepuluh orang anak muda (6 perempuan, 4 laki-laki) dari Pegunungan Laktutus ini merasa bahwa melalui beasiswa bakupeduli ini mereka mendapat kesempatan istimewa untuk membuat perubahan bagi masa depan diri dan komunitas mereka.

“Dilihat dari latar belakang desa kami, banyak kekurangan dan kelemahan dalam hal pendidikan. Tuhan Yang Maha Kuasa memberi jalan kepada kami untuk mendapatkan program beasiswa ini. Setelah menempuh jenjang pendidikan di Universitas Sanata Dharma, saya akan kembali ke Laktutus untuk mendorong masyarakat untuk membangun desa kami.” (Prisila Moru, 21 tahun, anak ke-4 dari 9 bersaudara)

“Saya dan keluarga merasa senang mendapatkan kesempatan luar biasa ini. Saya berjanji akan bertanggung jawab penuh menjalani program beasiswa ini. Kami yang diutus ini suatu hari nanti akan dapat memperbaiki keadaan desa Laktutus dalam ekonomi, pendidikan dan sosial.” (Hermalinda Abuk)

“Bagi kami program beasiswa ini merupakan sebuah jalan baru untuk mengangkat keterbelakangan daerah kami yang disebabkan kurangnya sumber daya manusia dan keadaan perekonomian masyarakat.” (Andreas Nahak, 21 tahun)

Membaca optimisme anak-anak muda ini, mudah-mudahan Saudara-saudari sepakat dengan saya bahwa Masa depan Laktutus yang suram—seperti juga masa depan banyak daerah di Kawasan Indonesia Timur lainnya—dapat kita revisi.

Butuh Dukungan

Perkenankan saya Saudara-saudari, pada Sahabat Bakupeduli, memakai kesempatan ini untuk sekali lagi menjelaskan skema gerakan bakupeduli ini. Ini adalah gerakan bersama. Semua orang yang peduli akan pendidikan dan perubahan sosial di Indonesia Timur, dimohon terlibat.

Gerakan ini sederhana: jika ada 200 orang saja yang bersedia berkontribusi 50.000 rupiah per bulan, maka kita dapat menghasilkan 10 sarjana bakupeduli setiap tahun. Tentu ada yang berkontribusi lebih, yaitu saudara-saudari yang mendapat anugerah rezeki lebih. Juga tidak harus rutin setiap bulan. Makin banyak orang yg peduli, makin banyak sarjana yg bisa kita hasilkan untuk membangun Indonesia Timur.

Program ini baru dimulai tahun 2009 ini. Angkatan pertama 10 orang dari Laktutus, semuanya disiapkan untuk menjadi guru di kampung halaman mereka (2 SD, 1 SMP). Bayangkan, 4 tahun lagi sebuah kawasan yang sering disebut orang terpencil, memiliki 10 orang guru lulusan salah satu universitas terkemuka. Tidakkah akan terjadi perubahan di daerah ini? Bukankah ini suatu pekerjaan besar?

Andai lebih banyak orang yang peduli, kita sanggup untuk kirim 10 lagi, kita bisa pilih daerah lain lagi. Kita analisa apa persoalan daerah itu? Bagaimana kemungkinan jalan keluar untuk merevisi masa depan? Lalu kita putuskan, di bidang apa sumber daya manusia asli kawasan itu kita siapkan.

Ini gerakan bersama

Ya. Kami hanya memulai. Harapan kita adalah bakupeduli akan segera menjadi milik semua orang, baik orang Indonesia Timur maupun orang yang peduli Indonesia Timur. Semoga bakupeduli menjadi gerakan bersama.

Saat ini, sudah ada 21 orang yang bergabung. Beberapa di antara mereka memilih berkontribusi rutin 50.000 rupiah per bulan. Beberapa langsung mentransfer untuk satu tahun. Bahkan ada yang langsung mengirim Rp. 4.310.000. (Sekadar Catatan: Semua kontribusi dikirim langsung ke Rekening yang dikelola oleh Universitas Sanata Dharma untuk program ini. Kami sebagai promotor tidak menerima uang).

Kami berharap, Saudara-saudari yang membaca CATATAN ini, tergerak untuk bergabung. Bersama-sama, kita bisa melakukan perjalanan bersama putera-puteri daerah-daerah terpencil Indonesia Timur yang kita dukung; sebuah perjalanan merevisi masa depan yang telah dibuat suram oleh ketidakadilan dan ketidakpedulian.

Salam bakupeduli

Cypri Jehan Paju Dale
Salah seorang inisiator dan pengelola bakupeduli

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.